Living in God’s Providence
Apa itu Providensi
Providensi diawali dengan suku kata Pro yang berarti “sebelum” atau “di depan”. Videre dalam Bahasa Latin yang berarti melihat. Hal ini memang kurang memiliki makna secara etimologi terkait kata providensi, namun dalam kata “sebelum melihat” memiliki arti “meilhat sebelum terjadi” yang biasa menunjukkan prapengetahuan. Providensi bukan berarti prapengetahuan melainkan pemeliharaan Allah atas dunia, baik pengawasan-Nya atas semua peristiwa dan keadaan dan penyediaan-Nya bagi semua kebutuhan kita. (Derek, 2019). Providensi memiliki arti yang lebih daripada kemampuan Allah untuk melihat masa depan; providensi berarti pemeliharaan Allah yang aktif dan pasti untuk memastikan apa yang Allah janjikan memang benar terlaksana.
Providensi dan Alkitab
Beberapa contoh dalam Alkitab menunjukkan tentang pemeliharaan Allah. Contoh ini dapat menunjukkan pemeliharaan dan kehendak Allah dalam penderitaan. Manusia dapat melihat providensi Allah dengan jelas saat hal-hal yang baik terjadi namun susah sekali melihat providensi Allah dalam kejadian yang tidak kita duga.
1. Yusuf
Kita semua sangat tahu bagaimana cerita Yusuf dimana dia dijual oleh saudara-saudaranya dan berakhir menyelamatkan keluarganya. Awal kisah Yusuf diceritakan bagaimana Yusuf mendapat mimpi dan menceritakannya kepada ayah dan saudaranya. Sebagaimana dia dipanggil oleh saudara-saudaranya sebagai si tukang mimpi (Kej 37:9). Setelah itu berlanjut pada kejadian Yusuf dijual, menjadi budak dan seterusnya. Ada satu hal yang dapat kita pahami dalam kisah Yusuf yaitu dalam Kejadian 50:20 berbunyi; Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Niat jahat saudara-saudara Yusuf merupakan gambaran bagaimana mereka membenci Yusuf. Kita dapat melihat bagaimana pemeliharaan Allah terhadap Yusuf dari kejadian jahat dalam hidupnya menjadi sebuah rencana yang baik. Tidak ada yang menduga bahwa Yusuf akan menjadi orang yang berkuasa di Mesir. Allah mempunyai rencana sedemikian rupa sehingga kita tidak menduga bahwa rencana Allah membuahkan hasil yang baik.
Jika kita ingin melihat sejenak bagaimana detil kecil dalam kisah Yusuf merupakan hal yang tidak mungkin terpikirkan oleh kita. Kej 37:15-17 memberitahu kita bagaimana Yusuf bisa bertemu dengan orang yang kebetulan mengetahui keberadaan saudara-saudaranya. Hal ini yang menuntun Yusuf kepada satu langkah lebih dekat dari awal niat jahat saudaranya. Selain itu bagaimana Ruben mengusulkan ide untuk melempar Yusuf ke dalam sumur untuk melindungi Yusuf dari niat jahat saudaranya yang lain (Kej 37:22). Namun hal itu tidak cukup untuk menghentikan Yehuda untuk menjual Yusuf kepada orang Ismael (Kej 37:27-28). Setelah itu kita bisa menelaah lebih detil bagaimana Tuhan memelihara dan menjaga Yusuf hingga akhir yang tidak terduga.
Kita dapat melihat bahwa Allah memastikan pewaris dari janji-janji kovenan itu memegang posisi yang paling kuat di Mesir pada saat bencana kelaparan melanda Kanaan sehingga memastikan kelangsungan hidup dari keluuarga kovenan. Yusuf bisa melihat ke belakang bagaimana Allah memelihara dan menolongnya. Yusuf perlu memiliki iman untuk dapat melihat providensi dalam kejadian hidupnya.
Terdapat dua tujuan dibalik penderitaan Yusuf. Pertama, segala hal yang terjadi kepada Yusuf secara pribadi merupakan bagian dari tujuan yang lebih besar yang di dalamnya rencana Allah sedang dinyatakan. Kedua, dalam skala yang lebih besar, Yusuf menyadari bagaimana janji-janji yang dibuat kepada Abraham digenapi. Allah yang berjanji akan memberikan tanah kepada Abraham perlahan mengingatkan kita bagaimana Yakub dimakamkan di tanah Kanaan.
2. Ayub
Ayub merupakan kisah paling mengejutkan dimana seseorang yang saleh kehilangan segalanya yang dia miliki. Keluarga, kekayaan, dan kesehatan telah diambil daripada Ayub. Ayub sendiri merupakan orang saleh dan penekanan ini diulang sebanyak tiga kali di dalam kitab Ayub (Ayub 1:1, 1:8, 2:3). Kejadian buruk jika terjadi kepada orang-orang yang buruk tidak akan membuat kita terheran-heran karena hal ini berkaitan dengan keadilan Tuhan. Bagaimana bisa hal-hal buruk terjadi kepada orang saleh? Allah mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub (Ayub 1:12). Dilema ini juga sempat dialami Nabi Amos dalam Amos 3:6 (TB) "Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?" Hal ini menunjukkan bahwa dalam penderitaan kehendak Allah tetap berdaulat. Sudah pasti kita berpikir bahwa penderitaan yang diijinkan terjadi oleh Allah merupakan pekerjaan Allah yang “aneh”. Namun jangan kita lupakan bahwa Allah tetap memegang kendali bahkan dalam keadaan tergelap sekalipun.
Pandangan tentang Providensi
Terdapat tiga pandangan tentang providensi ilahi yang berusaha untuk tetap mempertahankan pandangan yang tinggi tentang kedaulatan Allah di dalam providensi.
a. Pandangan Klasik/Augustinian-Calvinistik
Pandangan klasik dipegang oleh para theolog seperti Augustinus, Aquinas, Luther, Calvin dan Edwards. Pandangan ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi, entah baik maupun jahat, terjadi sesuai rencana yang telah ditetapkan Allah yang mahakuasa. Allah tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena Ia yang telah menetapkannya secara kekal. Prapengetahuan Allah yang tuntas dan kuasa-Nya yang tidak terbatas adalah untuk menggenapi tujuan-Nya yang tidak berubah. John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menjelaskan tentang providensi itu menegaskan bahwa tidak ada kekuatan, atau tindakan, atau gerakan yang salah, di dalam ciptaan, tetapi semuanya diatur oleh rencana Allah yang rahasia sedemikian rupa sehingga tidak ada yang terjadi kecuali apa yang dengan sengaja dan seturut kehendak didekritkan oleh-Nya.
b. Pandangan Arminian
Pandangan ini (yang dikaitkan dengan Jacob Arminius) dinyatakan paling jelas oleh William Hasker dalam bukunya God, Time and Knowledge mengatakan bahwa “Jelaslah bahwa prapengetahuan Allah tidak dapat digunakan untuk menyebabkan terjadinya suatu peristiwa yang diketahui untuk mencegah terjadinya peristiwa itu…. Dalam urutan logis dari dependensi peristiwa-peristiwa, orang dapat mengatakan, pada ‘saat’ Allah mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, sudah ‘terlambat’ untuk membuat peristiwa itu terjadi atau untuk mencegah agar peristiwa itu tidak terjadi”. Namun pandangan ini menempatan kehendak bebas manusia diatas kedaulatan Allah sehingga di dalam situasi yang persis sama, bisa saja hasil alternatif yang dipilih mengubah jalannya peristiwa. Arminianisme memiliki pandangan bahwa Roh Kudus bisa ditolak. Pandangan ini melupakan bahwa sejatinya manusia berada dalam keadaan mati setelah jatuh dalam dosa. Manusia telah menjadi gelap dan mati secara total serta menyeluruh. Kehendak bebas kita hanya akan menghasilkan maut namun oleh karena pengorbanan Yesus dan pimpinan Roh Kuduslah yang memampukan kita memikirkan dan melakukan apa yang benar. Manusia jatuh ke dalam dosa juga merupakan kehendak Allah. Allah memiliki alasan yang baik untuk mengizinkan manusia jatuh ke dalam dosa. Hal ini akan dibahas lebih lanjut tentang keterkaitan providensi dengan penderitaan, dosa dan tanggung jawab manusia.
c. Pandangan Molinisme
Melihat implikasi terhadap kedaulatan ilahi dan kebutuhan untuk mempertahankan kebebasan manusia maka Luis de Moira (1535-1600) seorang theolog Yesuit di abad keenam belas mengusulkan model alternatif yang melibatkan konsep “pengetahuan tengah”. Pengetahuan tengah menegaskan selain kebenaran yang niscaya (seperti logika) dan pengetahuan bebas ada hal-hal yang berkemungkinan benar –dan akan menjadi benar dalam keadaan tertentu. Molinisme menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala hasil atau dunia yang mungkin tersebut. Dari berbagai kemungkinan yang tidak terbatas ini, Allah menghendaki dunia nyata yang kita ketahui saat ini. Pandangan Klasik tidak membantah karena hal ini terkait dengan kemahatahuan-Nya. Namun Molinisme menegaskan bahwa Allah “memilih” (mengatualisasikan) dunia (dari kemungkinan yang tidak terbatas) yang didalamnya manusia mengambil pilihan bebas yang mereka buat. Masalah dalam pandangan ini yaitu jika ada kemungkinan aktual bahwa seseorang dapat memilih secara berbeda tidaklah mungkin bahwa Allah mengaktualkan seluruh kemungkinan yang ada tanpa melanggar kebebasan si individu untuk memilih.
Bukti Alkitabiah
1) Kedaulatan Allah atas seluruh ciptaan (Kolose 1:16-17)
2) Allah menjalankan sebuah rencana ilahi di dalam ciptaan (Mazmur 135:6)
3) Kedaulatan Allah mencakup individu-individu—bahkan orang yang jahat (Keluaran 9:12, berdasarkan Kel 4:21; 10:20; 11:10)
4) Kedaulatan Allah mencakup peristiwa-peristiwa yang tampak “acak” (Amsal 16:33)
5) Allah berdaulat atas peristiwa-peristiwa yang paling keji (Kisah Para Rasul 2:23; Yesaya 45:6-7)
6) Allah berdaulat dalam kehidupan umat-Nya bahkan sebelum mereka bereksistensi (Mazmur 139:16)
7) Kedaulatan Allah memastikan bahwa nubuat yang prediktif dalam Alkitab dapat dipercaya (Keluaran 32:13 berdasarkan Kej 15:13; Kej 18; Kej 28:15)
8) Kedaulatan Allah sebagaimana dipahami secara tradisional adalah akibat yang niscaya dari Injil.
Agar injil menjadi benar maka harus ada kepastian bahwa ada kemenangan atas dosa, maut dan iblis. Hal ini berkaitan bagaimana pandangan Arminianisme itu salah bahwa kehendak bebas manusia dapat menentukan pilihannya sendiri. Sebagaimana dalam Roma 8:7-8 (TB) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Manusia yang belum bertobat terkena dampak dosa Adam dari aspek pikiran, afeksi dan kehendaknya. Keadaan mati secara total. Yohanes 6:44 (TB) Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ayat ini menjelaskan bagaimana kita bisa terbebas dari belenggu dosa hanya melalui Yesus Kristus. Kita dimampukan oleh Roh Kudus untuk dapat memikirkan dan melakukan yang benar. Pemikiran orang yang mengenal Yesus dan sudah bertobat seharusnya menunjukkan bagaimana pemikiran kita tentang providensi Allah semakin utuh karena kita dimampukan untuk memahami kedaulatan Allah yang mutlak.
Providensi dengan Penderitaan, Dosa dan Tanggung Jawab Manusia
a. Providensi dengan penderitaan
Dunia telah takluk dalam kesia-siaan sebagaimana tertulis dalam Roma 8:20 (TB) Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya. Dan akibatnya dalam Roma 8:22 (TB) Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Hal ini menunjukkan bahwa manusia akan merasakan kesakitan dan mengeluh. Bahkan tanah menjadi terkutuk karena dosa Adam sebagaimana dalam Kejadian 3:17 (TB) Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu
Lantas apakah adil jika seseorang yang saleh atau orang yang tidak bersalah menderita? Mari kita melihat bagaimana Yesus yang tidak bersalah harus menderita. Ia mengambil tempat orang-orang fasik yang seharusnya dihukum. Contoh yang lain ketika ada orang buta yang disembuhkan Yesus dalam Yohanes 9 dimana murid-murid bertanya apakah orang tersebut menjadi buta karena dosa dirinya sendiri atau dosa orang tuanya. Benar bahwa kita dari lahir sudah mewarisi kesalahan dari pelanggaran Adam. Roma 5:12 (TB) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Yesus bukan memakai alur keberdosaan yang Adam wariskan dalam menjawab, Ia menjawab dengan Yohanes 9:3 (TB) Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
Masih ingat bagaimana alur kisah Yusuf dan Ayub saat mereka menderita? Allah ingin menyatakan kehendak-Nya dalam penderitaan tersebut. Kita dapat pahami bahwa hukum panen dalam Yohanes 12:24 (TB) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah menjelaskan bahwa penderitaan terjadi pada seseorang agar berkat bisa sampai kepada orang lain. Dalam kisah Ayub, Yusuf dan kesembuhan orang buta tadi menunjukkan ada jaminan bahwa apa yang terjadi dengan mereka bukan kebetulan belaka atau nasib, atau kecerdikan seseorang di dalam mengambil pilihan-pilihan yang baik. Kedaulatan Allah nyata dalam contoh yang telah dijelaskan. Pandangan bahwa kehendak bebas manusia diatas kedaulatan Allah terbantahkan dengan jelas. Allah yang memegang kendali atas kehidupan kita bahkan dalam kegelapan yang paling gelap.
b. Providensi dengan dosa
Manusia jatuh ke dalam dosa juga merupakan kehendak Allah. Allah memiliki alasan yang baik untuk mengizinkan manusia jatuh ke dalam dosa. Apa yang Allah pikirkan sehingga mengizinkan Adam dan Hawa berdosa? Jawabannya ada dalam alur pemikiran bahwa ada kebaikan yang lebih besar yang akan terjadi, kebaikan yang tidak akan terjadi seandainya tidak ada dosa di dunia. Dalam kejahatan dosa, Allah yang adalah kasih menujukkan kebaikan-Nya bahkan dari kejahatan itu sendiri. Roma 8:28 (TB) Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Orang-orang yang tidak mengenal Injil akan berpikir bahwa hidup tidak adil dan Allah tidak ada karena mereka belum mengenal Juru Selamat umat manusia yaitu Yesus Kristus. Kita sebagai orang yang telah ditebus, percaya dan bertobat memiliki peranan yang lebih besar dalam mengabarkan Injil serta memuliakan Allah. Providensi Allah membuat kita menyadari kita telah dimerdekakan dari dosa. Roma 6:22-23 (TB) 22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. 23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Kita telah menyadari providensi Allah lewat dosa. Sebagaimana kita sekarang hidup di dalam Roh Kudus, kita dapat memahami kebaikan yang Allah berikan kepada kita melalui pengorbanan Yesus. Kedaulatan Allah diatas kehendak bebas kita yang telah rusak sehingga kita diselamatkan oleh karena Anugerah bukan karena perbuatan kita. Jika kita menaruh kehendak bebas kita yang telah rusak total diatas kedaulatan Allah berarti kita telah memegahkan diri atas keselamatan yang menurut pandangan ini adalah hasil kehendak bebas manusia.
c. Providensi dengan tanggung jawab manusia
Pernakah kita berpikir bahwa segala hal terjadi sesuai kehendak Allah untuk menjadikan alasan dalam kelalaian atau kegagalan kita? Ketika kita mendapatkan hasil ujian yang buruk karena ketidaksiplinan dalam belajar atau bahkan kegagalan kita dalam mengatur keuangan sehingga kita terlilit hutang? Alkitab memberikan jawaban terkait tanggung jawab manusia. Pengkhotbah 10:18 (TB) Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah. Amsal 20:4 (TB) Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa. Ayat-ayat ini menegaskan untuk kita bertanggung jawab dalam apa yang Tuhan telah percayakan kepada kita. Pendidikan, Kesehatan, keuangan dan hal lain dalam kehidupan kita merupakan tanggung jawab kita.
Segala hal dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Lantas jika terjadi kejadian yang tidak terduga apakah kita akan menyerah begitu saja? Tidak. Contoh ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani kepada Allah Bapa tentang penderitaan-Nya yang akan dihadapi. Yesus tetap melaluinya sebagaimana kehendak Bapa terjadi. Contoh lain seperti bagaimana pengikut Yesus dihadapkan dengan kematian atau kebenaran, mereka tetap berpegang teguh dalam mengabarkan Injil. Kita juga memiliki tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan kita.
Derek W. H. Thomas dalam buku Apakah Providensi Itu? mengatakan bahwa para theolog dan filsuf menciptakan kata “kompatibilisme” untuk menggambarkan hubungan antara kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia. Keduanya benar dan keduanya membutuhkan penekanan yang sama. Contoh ketika ada seorang penulis buku mengisahkan tokoh utama yang mati karena melompat ke jurang. Apakah tokoh utama itu mati karena penulis menginginkannya atau karena melompat ke jurang? Kisah tersebut merupakan akibat dari rentetan kejadian lain tetapi dalam setiap kejadian itu sang penulis menginginkan hal itu terjadi. Kejadian yang ada di dunia ini adalah peristiwa providensial. Segala hal yang terjadi ditentukan oleh providensi Allah dan tanggung jawab manusia karena keduanya adalah satu. Jika kita ingin melihat peranan tanggung jawab manusia, Allah sejak awal telah menjadikan manusia sebagai rekan kerja untuk mengurus bumi.
Mercayai Allah sebagai Allah yang berdaulat dan Juru Selamat Yesus Kristus
Doktrin providensi memanggil kita untuk percaya kepada Allah. Banyak kisah dalam Alkitab yang menunjukkan pengharapan dari Allah bahkan dalam hal yang kelihatannya natural. Kitab Esther merupakan contoh yang bagus untuk memahami providensi Allah dalam hal yang mendetil. Bagaimana setiap orang memiliki peranannya masing-masing sehingga perbuatan mereka yang dahulu akan menjadi dampak di masa depan. Sebagaimana Mordekhai bisa selamat dari niat jahat Haman disaat yang tepat Raja Ahasyweros memberikan penghargaan kepada Mordekhai dimana sebelumnya jasa Mordekhai untuk menyelamatkan Raja dari ancaman pembunuhan belum diberikan imbalan. Allah ada dalam detil-detil yang tidak terlihat oleh mata kita. Kitab Esther memperlihatkan pemeliharaan Allah dalam contoh yang tidak terpikirkan oleh kita.
Dia yang mengatur dan memastikan hasil yang baik adalah Penebus kita. Yohanes 17:4-5 (TB) "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada menyatakan Yesus dimuliakan karena telah menyelesaikan pekerjaan yang harus Ia lakukan." Yesus ditinggikan karena Ia taat sampai mati sebagaimana dalam Filipi 2:8-9 (TB) "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, Yesus berkuasa dan Ia adalah kepala gereja" Lalu dalam Efesus 1:22 (TB) Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.
Penutup
Providensi Allah menunjukan bahwa dalam penderitaan pun terdapat pengharapan dan pemeliharaan Allah. Melalui dosa, Allah menyatakan kebaikan-Nya melalui Yesus Kristus yang menggenapi Firman Allah. Kita bertanggung jawab atas kehidupan kita kepada Allah sebagaimana pemeliharaan Allah nyata dalam kehidupan kita